JENEWA, 24 Februari 2026 – Dalam forum internasional di Jenewa, Menlu RI Sugiono menekankan urgensi perlucutan senjata sebagai alat utama menjaga perdamaian dunia. Ia menyoroti tekanan global terhadap multilateralisme akibat ketidakpastian geopolitik dan berakhirnya Perjanjian New START yang sebelumnya mengikat negara pemilik senjata nuklir terbesar.
Menurut Sugiono, perlucutan senjata nuklir saat ini terkesan opsional, sementara proliferasi justru terus terjadi. Ia menekankan perlunya keseimbangan antara kewajiban nonproliferasi dan kemajuan nyata dalam perlucutan senjata.
“Perlucutan senjata bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi keharusan moral demi masa depan dunia yang aman,” tegasnya. Sugiono mendorong Konferensi Perlucutan Senjata untuk menjaga integritas, menampilkan ketahanan dinamis, dan kembali menjadi forum perundingan utama.
Konferensi Perlucutan Senjata, yang berbasis di Jenewa dan memiliki 65 anggota termasuk lima pemilik senjata nuklir, telah melahirkan sejumlah perjanjian penting, seperti Konvensi Senjata Kimia dan Traktat Pelarangan Uji Coba Nuklir. Indonesia berkomitmen terus mendorong forum ini agar perlucutan senjata global berlangsung menyeluruh, transparan, dan adil.
Tim Redaksi

