Kolaka, Sulawesi Tenggara – Viralnusantara.net – Berhembusnya angin malam di atas kapal justru menambah hangat suasana perjalanan. Petikan gitar, tabuhan gendang, dan lantunan lagu berpadu dengan suara para penumpang yang ikut bernyanyi. Di tengah perjalanan laut yang sederhana, tiga orang pengamen menghadirkan hiburan dengan cara mereka sendiri.
Roy dengan petikan gitarnya sambil bernyanyi, Ilham dengan irama gendangnya, dan Achonk yang berkeliling menemui para penumpang. Mereka bergerak dari satu sudut kapal ke sudut lainnya, membawa musik sederhana yang mampu mencairkan suasana perjalanan malam.
Tidak ada panggung khusus. Tidak ada sorotan lampu. Hanya ruang kapal, hembusan angin malam, suara gitar, tabuhan gendang, dan lantunan lagu yang kemudian menyatu dengan suara para penumpang yang ikut bernyanyi.
“Yang penting bisa bermain musik, menghibur orang, sekaligus mencari rezeki,” demikian semangat yang tercermin dari perjalanan Roy selama bertahun-tahun.
Pertemuan awak media dengan Roy dan sejumlah pemain KPJ pelabuhan di Kota Kolaka pun berlangsung dalam suasana sederhana. Saling menyapa, bercanda, dan memperkenalkan diri menjadi awal perjumpaan yang memperlihatkan bahwa di balik aktivitas mengamen, ada manusia-manusia dengan cerita, perjuangan, dan harapan masing-masing.
Roy adalah gambaran kecil tentang kerasnya kehidupan anak rantau. Berangkat dari Bantaeng, membawa kecintaan terhadap musik, lalu bertahan selama puluhan tahun di tanah orang dengan gitar sebagai kawan sekaligus alat untuk menyambung hidup.
Di pelabuhan, tempat orang datang dan pergi silih berganti, Roy justru memilih untuk tetap bertahan. Musiknya mungkin hanya terdengar beberapa menit bagi seorang penumpang, tetapi bagi Roy, setiap petikan gitar adalah bagian dari perjalanan panjang kehidupannya.
Namun, kisah Roy bersama rekan-rekannya tidak semata-mata tentang aktivitas mengamen. Di balik gitar, gendang, dan lagu yang mereka bawakan, terdapat persoalan ekonomi rakyat kecil yang membutuhkan perhatian lebih serius dari berbagai pihak.
Sekelompok pengamen seperti Roy, Ilham, Achonk dan para pemain musik jalanan lainnya merupakan bagian dari masyarakat yang terus berusaha bertahan dengan kemampuan yang mereka miliki. Mereka tidak hanya membutuhkan apresiasi ketika menghibur masyarakat, tetapi juga membutuhkan perhatian terhadap keberlangsungan kehidupan dan masa depan mereka.
Pemerintah maupun pihak-pihak yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat kecil diharapkan dapat melihat kondisi tersebut secara lebih luas. Perhatian tidak selalu harus dimaknai bahwa pendapatan mereka saat ini tidak mencukupi, melainkan bagaimana membuka kesempatan agar mereka memiliki pekerjaan tambahan yang layak dan dapat dilakukan tanpa harus meninggalkan kecintaan mereka terhadap musik.
Misalnya melalui pelatihan keterampilan, pemberdayaan ekonomi, peluang usaha kecil, pekerjaan tambahan, maupun ruang-ruang kreatif yang dapat menjadi sumber penghasilan baru. Dengan demikian, kemampuan bermusik yang selama ini mereka gunakan untuk menghibur penumpang juga dapat dikembangkan menjadi potensi ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Sebab, masyarakat kecil bukan hanya membutuhkan bantuan sesaat. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk berkembang, memperoleh pekerjaan tambahan yang layak, serta mendapatkan ruang untuk meningkatkan taraf kehidupan melalui kemampuan yang mereka miliki.
Musik bagi Roy dan kawan-kawannya bukan sekadar hiburan. Musik telah menjadi bagian dari perjalanan hidup sekaligus cara mereka mempertahankan kehidupan. Karena itu, perhatian terhadap mereka bukan berarti menghilangkan aktivitas yang selama ini mereka jalani, tetapi justru bagaimana memberikan pilihan dan kesempatan yang lebih luas.
Malam itu, perjalanan kapal bukan hanya tentang menuju sebuah tujuan. Ada cerita lain yang ikut berlayar—tentang persahabatan, perjuangan, musik, dan orang-orang sederhana yang mampu menghadirkan kehangatan di tengah dinginnya angin malam.
Dari satu kapal ke kapal lainnya, dari satu penumpang ke penumpang berikutnya, Roy bersama Ilham dan Achonk terus memainkan musiknya. Bukan untuk menjadi terkenal, melainkan untuk tetap bertahan, berbagi hiburan, dan mencari rezeki dengan cara yang mereka cintai.
Bagi mereka, setiap petikan gitar, setiap tabuhan gendang, dan setiap lagu yang dinyanyikan adalah bentuk perjuangan. Di balik kesederhanaan penampilan mereka, tersimpan harapan agar kehidupan ke depan bisa menjadi lebih baik.
Sebab terkadang, kebahagiaan tidak membutuhkan panggung yang megah. Cukup sebuah gitar, gendang, sebuah lagu, dan orang-orang yang bersedia bernyanyi bersama.
Di atas kapal itulah, musik sederhana mereka menjadi penghangat perjalanan malam. Dan di balik suara musik tersebut, terselip sebuah pesan sederhana: masyarakat kecil tidak hanya membutuhkan perhatian ketika menghadapi kesulitan, tetapi juga membutuhkan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan tambahan yang layak, berkembang, dan berdiri lebih kuat dengan kemampuan yang mereka miliki.
Roy, Ilham, Achonk, dan para pengamen lainnya mungkin hanya bagian kecil dari kehidupan di pelabuhan. Namun dari mereka, kita dapat melihat bahwa di balik setiap lagu yang dinyanyikan, selalu ada perjuangan untuk mempertahankan kehidupan dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Penulis: Kanda Ali

