Dari BAIS ke Bui: Ketika Intelijen Strategis TNI Diduga Menjadi Tangan Kekerasan terhadap Aktivis HAM

Jakarta, Kasus teror air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, mengguncang publik dan menempatkan institusi keamanan negara di bawah sorotan tajam. Dalam waktu hanya enam hari setelah serangan brutal di kawasan Salemba, aparat berhasil mengamankan empat prajurit yang diduga terlibat—semuanya berasal dari lingkungan Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Pengungkapan cepat ini memunculkan dua sisi sekaligus: apresiasi atas langkah penegakan hukum, namun juga pertanyaan besar mengenai motif, rantai komando, dan bagaimana aparat intelijen negara bisa terseret dalam kasus kekerasan terhadap pembela hak asasi manusia.

Malam Kamis, 12 Maret 2026. Di satu sudut Salemba, Jakarta Pusat, seseorang yang selama bertahun-tahun menjadi suara bagi mereka yang hilang paksa dan menjadi korban kekerasan negara, melangkah pulang. Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), tidak tahu bahwa empat orang bermotor telah menunggunya dalam kegelapan.

Sekitar pukul 23.30 WIB, cairan kimia menyembur ke arahnya. Wajah, tangan, dada, dan mata kanannya menjadi sasaran. Luka bakar hingga 20–24% dari luas tubuh, kornea mata rusak derajat 3 — itulah harga yang ia bayar malam itu. Bukan karena kebetulan. Bukan karena salah orang.

Tepat enam hari kemudian, pada Rabu sore 18 Maret 2026, Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI mengumumkan bahwa empat anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI telah diamankan dan ditetapkan sebagai tersangka. Mereka bukan sekadar prajurit biasa — mereka adalah bagian dari satuan intelijen paling strategis di Markas Besar TNI.

Kasus ini bukan sekadar kejahatan kriminal biasa. Ini adalah cermin — tentang di mana batas antara kekuasaan dan kekerasan, antara negara dan teror.

I. KRONOLOGI SERANGAN DAN PENGUNGKAPAN CEPAT

Dalam hitungan jam setelah serangan, Polda Metro Jaya menerima laporan dan mulai bekerja. Rekaman CCTV dari kawasan Salemba merekam dua sosok yang menurut Puspom TNI adalah eksekutor langsung. Ciri gerak, koordinasi, dan disiplin operasional empat pelaku yang dilaporkan polisi menimbulkan kecurigaan: ini bukan kriminal jalanan.

KRONOLOGI PERISTIWA

12 Maret 2026, 23.30 WIB

Serangan air keras di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Empat pelaku bersepeda motor menyiram Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS.

13 Maret 2026

Andrie dirawat di HCU RSCM; luka bakar 20–24% di tangan, wajah, dada, dan mata kanan derajat 3. Tim medis mulai tindakan transplantasi membran amnion.

14–17 Maret 2026

Polda Metro Jaya merilis sketsa wajah dua pelaku. Kapuspen TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah nyatakan TNI selidiki secara internal, buka kemungkinan kolaborasi Polri.

18 Maret 2026 (pagi)

Puspom TNI mengamankan empat anggota Denma BAIS TNI (AL/AU): Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, Serda ES.

18 Maret 2026 (sore)

Danpuspom TNI Mayjen Yusri Nuryanto gelar konferensi pers di Mabes TNI; keempat tersangka ditetapkan, ditahan di Pomdam Jaya Super Security Maximum.

18 Maret 2026 (sore)

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo tegaskan komitmen Polri usut tuntas sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Kecepatan pengungkapan — enam hari — terbilang luar biasa untuk sebuah kasus yang melibatkan satuan intelijen. Danpuspom TNI Mayjen Yusri Nuryanto menjelaskan bahwa penetapan tersangka lahir dari penyelidikan internal yang menemukan sejumlah kejanggalan.

“Dari hasil penyelidikan internal itu kita melihat ada beberapa kejanggalan, sehingga dari kejanggalan itu kita kembangkan, muncullah yang diduga empat tersangka tersebut.”

— Mayjen TNI Yusri Nuryanto, Danpuspom TNI — Mabes TNI, 18 Maret 2026

Berdasarkan rekaman CCTV, dua dari empat tersangka diduga sebagai eksekutor langsung di lokasi kejadian. Dua lainnya masih dalam pendalaman terkait peran masing-masing, termasuk kemungkinan adanya rantai perintah yang lebih panjang.

II. PROFIL TERSANGKA: DARI BAIS, DUA MATRA

Keempat tersangka berasal dari Detasemen Markas (Denma) BAIS TNI — unit yang secara kelembagaan berada langsung di bawah Mabes TNI dan bertugas mengelola intelijen strategis negara. Denma BAIS sendiri merekrut personel lintas matra: dalam kasus ini, dari Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU).

IDENTITAS TERSANGKA (INISIAL RESMI PUSPOM TNI)

NDP — Kapten, Angkatan Laut (AL)

SL — Lettu, Angkatan Udara (AU)

BHW — Lettu (dalam pendalaman matra)

ES — Serda (dalam pendalaman matra)

Status Penahanan:

Super Security Maximum, Pomdam Jaya

Satuan:

Denma BAIS TNI, Mabes TNI

Puspom TNI juga mencatat adanya perbedaan inisial antara daftar tersangka milik Polda Metro Jaya dan versi Puspom, kendati koordinasi antar-institusi tetap berlanjut. Ini menjadi salah satu aspek yang masih perlu klarifikasi publik.

Yang menarik perhatian adalah spektrum pangkat: dari Kapten — perwira menengah yang lazimnya telah melewati berbagai penugasan operasional — hingga Serda, bintara yang biasanya berfungsi sebagai pelaksana lapangan. Kombinasi ini menguatkan hipotesis bahwa operasi ini memiliki struktur hirarki yang terencana.

III. RESPONS INSTITUSIONAL: ANTARA KOMITMEN DAN UJIAN KEPERCAYAAN

Tiga institusi besar bereaksi hari ini. Masing-masing membawa bobot dan taruhannya sendiri.

Danpuspom TNI Mayjen Yusri Nuryanto menegaskan komitmen transparansi — persidangan akan dilakukan secara terbuka di lingkungan peradilan militer dan dapat diikuti publik maupun media. Sebuah janji yang belum pernah terasa seberat ini.

“Kita akan bekerja semaksimal mungkin, dengan harapan bahwa proses penyidikan ini dapat kita lakukan secepatnya secara profesional, kemudian kita serahkan kepada penuntut, dalam hal ini Odmil, untuk melakukan persidangan.”

— Mayjen TNI Yusri Nuryanto, Danpuspom TNI

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa Polri tidak akan berhenti di empat nama tersangka. Instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk mengusut kasus ini secara tuntas menjadi mandat yang kini diemban bersama oleh Polri dan Puspom TNI.

“Jajaran kami terus mendalami kejadian di Salemba.”

— Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, 18 Maret 2026

KontraS, melalui Jane Rosalina, mengonfirmasi kondisi Andrie Yunus yang berangsur membaik — menjalani transplantasi membran amnion dan tanam kulit di HCU RSCM. Namun KontraS menekankan: membaiknya kondisi fisik korban tidak mengubah kenyataan bahwa intimidasi terhadap pembela HAM adalah serangan terhadap demokrasi itu sendiri.

Komnas HAM turut menyatakan bahwa serangan terhadap Andrie Yunus merupakan pelanggaran hak atas rasa aman yang dijamin konstitusi — dan mendesak transparansi penuh proses hukum.

IV. POLA YANG BERULANG: CATATAN KEKERASAN TERHADAP PEMBELA HAM

Indonesia memiliki sejarah panjang kekerasan terhadap aktivis dan pembela hak asasi manusia. Kasus ini bukan yang pertama — namun memiliki satu kekhasan yang menjadikannya berbeda.

1997–1998

Penculikan dan penghilangan paksa 23 aktivis prodemokrasi oleh aparat; sebagian besar hingga kini tidak diketahui nasibnya.

2004

Pembunuhan Munir Said Thalib dengan racun arsenik di penerbangan internasional; melibatkan unsur intelijen negara.

2021–2023

Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti dikriminalisasi atas konten digital kritis terhadap pejabat publik; berakhir dengan vonis bebas.

2022

Amnesty International mencatat lebih dari 150 serangan terhadap pembela HAM di Indonesia sepanjang tahun.

Paruh 2025

Lebih dari 100 insiden serangan, intimidasi, dan kriminalisasi terhadap pembela HAM tercatat — belum termasuk yang tak dilaporkan.

Maret 2026

Serangan air keras terhadap Andrie Yunus — kali pertama pelaku dari BAIS TNI teridentifikasi hanya enam hari pasca-kejadian.

Motif kekerasan terhadap pembela HAM di Indonesia kerap bermuara pada isu-isu sensitif: kritik terhadap kekuasaan, eksplorasi sumber daya alam di daerah konflik seperti Papua, serta upaya membongkar impunitas aparat.

Namun yang menjadi novelty dalam kasus ini adalah kecepatan identifikasi pelaku dari lingkungan BAIS TNI dan kemungkinan bahwa rantai perintah akan ditelusuri secara terbuka.

V. ANALISIS: DI PERSIMPANGAN PRESEDEN DAN PRESEDEN BURUK

Ada dua skenario yang kini mengancam.

Skenario pertama:

Pengungkapan ini berlanjut hingga rantai komando. Jika motif dan perintah di balik operasi ini terungkap di meja peradilan militer terbuka, Indonesia dapat mencatat babak baru dalam akuntabilitas aparat keamanan.

Skenario kedua:

Proses berhenti pada empat tersangka, motif tetap kabur, dan rantai komando tidak pernah terungkap. Dalam skenario ini, pengungkapan cepat justru menjadi simulasi transparansi — empat orang dikorbankan, institusi terlindungi.

Komitmen untuk membuka persidangan kepada publik menjadi kunci apakah kasus ini akan menjadi preseden baik atau sekadar pengulangan sejarah impunitas.

“Masih kami dalami motif dan siapa yang memerintah. Tapi kami akan transparan.”

— Mayjen TNI Yusri Nuryanto, Mabes TNI, 18 Maret 2026

VI. PENUTUP: KETIKA NEGARA MENGUJI DIRINYA SENDIRI

Andrie Yunus kini berbaring di HCU RSCM dengan kornea rusak dan kulit yang dipasang kembali sepotong demi sepotong. Ia bukan satu-satunya korban malam itu. Yang juga terluka adalah kepercayaan publik pada jaminan perlindungan bagi mereka yang memilih berbicara di saat banyak memilih diam.

Kasus ini menjadi ujian besar bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto: apakah mesin akuntabilitas akan benar-benar bekerja, atau justru impunitas akan kembali menemukan jalannya.

Publik menunggu.

Bukan hanya untuk Andrie — tetapi untuk semua orang yang masih berjalan pulang malam ini, tanpa tahu apakah ada empat motor yang menunggu di tikungan berikutnya.

 

— Satria GSH, Reporter | Majalah Fakta Hukum | Jakarta, 18 Maret 2026 —

Penulis : Satria GSH

  1. Editor : Tim Redaksi

More From Author

Jelang Nyepi dan Lebaran, Harga Pangan di Makassar Dipastikan Tetap Normal

Ketua PERJOSI Kota Makassar Sampai kan Ucapan Selamat Hari Raya IDUL FITRI 1447 H, Ajak Perkuat Silaturahmi Dan Ke Ikhlasan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Categories

Subscribe

Email
The form has been submitted successfully!
There has been some error while submitting the form. Please verify all form fields again.

Recent Post