Langkah Amerika Serikat yang mengakuisisi perusahaan pemasok komponen penting jet tempur Dassault Rafale memicu kekhawatiran sejumlah pihak terkait potensi dominasi teknologi dalam rantai pasok industri pertahanan global. Akuisisi tersebut disebut menyasar produsen perangkat elektronik dan sensor utama yang selama ini menjadi bagian krusial dari sistem pesawat tempur buatan Dassault Aviation.
Manuver ini dinilai dapat memperkuat pengaruh Washington terhadap operasional alutsista negara-negara pengguna Rafale, termasuk Indonesia. Dengan posisi strategis dalam rantai pasok, Amerika Serikat berpotensi memiliki kontrol tidak langsung terhadap distribusi komponen dan dukungan teknis pesawat tersebut.
Meski demikian, Indonesia disebut tidak tinggal diam. Pemerintah melalui penguatan industri pertahanan nasional berupaya meminimalkan potensi ketergantungan. Salah satu langkah strategis dilakukan dengan mengoptimalkan peran PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dalam pengembangan kapasitas manufaktur dan pemeliharaan.
Melalui skema transfer teknologi dan kerja sama industri, Indonesia membangun fondasi ekosistem perawatan serta produksi komponen tertentu di dalam negeri. Upaya ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan kesiapan operasional armada TNI AU tetap terjaga tanpa hambatan pasokan.
Penguatan fasilitas industri pertahanan di Bandung menjadi elemen penting dalam menjaga kedaulatan udara nasional. Sinergi antara diplomasi pertahanan dan kemandirian teknologi dinilai sebagai langkah strategis Indonesia dalam menghadapi dinamika persaingan global di sektor alutsista.
Sumber: Zona Jakarta
Editor : Tim Redaksi

